Kejang Demam pada Anak. Jangan Panik, Lakukan Ini
Melihat anak kejang saat demam adalah momen paling menakutkan bagi orang tua. Panduan ini jelaskan apa yang harus dilakukan step by step, kapan harus ke IGD, dan bagaimana mencegahnya terulang.

Sponsor
Kejang demam adalah salah satu kondisi yang paling sering membuat orang tua kehilangan akal dan sayangnya, kepanikan sering membuat tindakan yang diambil justru membahayakan anak. Banyak yang mencoba membuka mulut anak, memasukkan sendok, atau mengguyur air dingin semua tindakan yang sebenarnya tidak perlu bahkan berbahaya.
Karena orang tua yang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan adalah yang terbaik yang bisa diberikan untuk anak saat momen kritis itu tiba.
Baca juga
Panduan Lengkap Kesehatan Anak: Semua yang Perlu Orang Tua Tahu, dari Lahir hingga Usia Sekolah
Apa Itu Kejang Demam?
Kejang demam adalah kejang yang dipicu oleh demam pada anak, biasanya terjadi saat suhu tubuh naik cepat bukan karena suhu yang sudah sangat tinggi. Artinya, anak bisa kejang meskipun suhunya 'baru' 38,5°C jika naiknya sangat cepat.
Kejang demam paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, dengan puncak kejadian di usia 14–18 bulan. Sekitar 2–5% anak pernah mengalami kejang demam setidaknya satu kali.
Kejang Demam BUKAN epilepsi.
Kejang Demam BUKAN epilepsi.
Ini poin yang sangat penting dan sering disalahpahami. Kejang demam dipicu oleh demam dan biasanya tidak meninggalkan efek jangka panjang pada otak anak. Epilepsi adalah kondisi yang berbeda, di mana kejang terjadi TANPA demam. Sebagian besar anak yang pernah kejang demam tidak berkembang menjadi epilepsi. |
Jenis Kejang Demam
| Jenis | Karakteristik |
| Kejang Demam Sederhana (KDS) | Berlangsung kurang dari 15 menit, terjadi satu kali dalam 24 jam, gerakan melibatkan seluruh tubuh. Ini yang paling umum sekitar 80% kasus |
| Kejang Demam Kompleks (KDK) | Berlangsung lebih dari 15 menit, ATAU terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam, ATAU hanya melibatkan satu sisi tubuh. Butuh evaluasi lebih lanjut oleh dokter |
Perbedaan ini penting karena penanganan dan tindak lanjut medisnya berbeda. Kejang demam kompleks memerlukan evaluasi lebih mendalam untuk memastikan tidak ada penyebab lain.
Yang Harus Dilakukan Saat Anak Kejang
Ini adalah panduan step-by-step yang perlu kamu hafal sebelum kejadian terjadi:
LANGKAH 1 — TETAP TENANG Tarik napas. Kejang demam hampir selalu berhenti sendiri dalam 1–3 menit. Kepanikan hanya membuat kamu mengambil tindakan yang salah. LANGKAH 2 — CATAT WAKTU Lihat jam atau aktifkan stopwatch. Durasi kejang adalah informasi penting untuk dokter. LANGKAH 3 — POSISIKAN ANAK DENGAN AMAN • Baringkan anak di lantai atau permukaan datar yang aman • Posisikan miring (recovery position) — sisi kiri atau kanan • Ini mencegah anak tersedak jika muntah LANGKAH 4 — JAUHKAN DARI BAHAYA • Jauhkan dari tepi tempat tidur, tangga, atau benda tajam • Jangan menahan gerakan kejang — biarkan berlangsung LANGKAH 5 — JANGAN MASUKKAN APAPUN KE MULUT • Bukan sendok, bukan jari, bukan apapun • Anak tidak akan 'menelan lidahnya' — ini mitos • Risiko cedera dari benda di mulut jauh lebih besar LANGKAH 6 — REKAM JIKA MEMUNGKINKAN Video pendek kejang sangat membantu dokter mendiagnosis jenis dan penyebab kejang. LANGKAH 7 — SETELAH KEJANG BERHENTI • Tetap di posisi miring sampai anak sepenuhnya sadar • Ukur suhu tubuh • Berikan antipiretik (parasetamol) sesuai dosis • Tenangkan anak mereka biasanya bingung dan lelah setelah kejang |
Baca juga
Yang TIDAK Boleh Dilakukan
| Jangan lakukan ini ❌ | Mengapa berbahaya |
| Memasukkan sendok/jari ke mulut | Bisa mematahkan gigi, melukai jari, atau menyebabkan anak tersedak |
| Menahan atau mengikat tubuh anak | Bisa menyebabkan cedera biarkan kejang berlangsung alami |
| Mengguyur dengan air dingin | Bisa memperparah kondisi dan menyebabkan hipotermia |
| Memberi minum atau obat saat kejang | Anak tidak sadar penuh risiko tersedak sangat tinggi |
| Meninggalkan anak sendirian | Anak butuh dipantau terus sampai benar-benar sadar kembali |
| Langsung panik dan ke IGD tanpa monitor durasi | Kebanyakan kejang demam sederhana berhenti sendiri, tidak perlu IGD jika <15 menit dan ini bukan pertama kali |
Kapan Harus ke IGD?
🚨 SEGERA ke IGD jika: • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit (jangan tunggu 15 menit) • Kejang terjadi dua kali atau lebih dalam 24 jam • Kejang hanya melibatkan satu sisi tubuh • Anak tidak sadar kembali dalam 10–15 menit setelah kejang berhenti • Ini adalah kejang pertama anak • Anak berusia di bawah 6 bulan • Ada kekakuan leher (tanda meningitis) • Orang tua merasa ada yang tidak beres percayai instingmu |
⚠️ Tetap ke dokter (bisa besok pagi) jika: • Kejang berhenti sebelum 5 menit, anak kembali sadar normal • Ini bukan pertama kali dan pola kejangnya sama seperti sebelumnya • Anak sudah pernah didiagnosis kejang demam sederhana oleh dokter |
Setelah Kejang: Apa yang Perlu Dievaluasi Dokter?
Setelah episode kejang demam, dokter anak perlu mengevaluasi beberapa hal:
- Penyebab demamnya infeksi apa yang memicu? Apakah butuh antibiotik?
- Jenis kejang demam sederhana atau kompleks?
- Apakah perlu pemeriksaan tambahan (EEG, darah, atau pungsi lumbal)?
- Apakah perlu obat pencegahan kejang?
Untuk kejang demam sederhana yang sudah pernah dialami sebelumnya, dokter biasanya tidak meresepkan obat antikejang rutin karena risikonya lebih kecil dari manfaatnya. Yang biasanya diberikan adalah diazepam rektal untuk digunakan saat kejang terjadi lagi.
Bisakah Kejang Demam Dicegah?
Tidak sepenuhnya tidak ada yang bisa memprediksi kapan demam akan memicu kejang. Tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko:
- Berikan antipiretik (parasetamol) segera saat demam mulai jangan tunggu demam sangat tinggi
- Pantau suhu anak secara rutin saat sakit, terutama di malam hari
- Pastikan anak cukup minum untuk mencegah dehidrasi yang bisa memperparah demam
- Jika anak punya riwayat kejang demam, konsultasikan dengan dokter tentang protokol penanganan yang perlu disiapkan di rumah
Baca juga
Panduan Pengasuhan Keluarga Indonesia: Antara Tradisi dan Parenting Modern
FAQ
Apakah anak yang pernah kejang demam akan kejang lagi?
Sekitar 30–40% anak yang pernah kejang demam akan mengalaminya lagi. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan berulang: usia saat pertama kejang sangat muda (di bawah 15 bulan), demam tidak terlalu tinggi saat kejang pertama, dan ada riwayat keluarga dengan kejang demam.
Apakah kejang demam berbahaya untuk otak anak?
Kejang demam sederhana yang berlangsung singkat umumnya tidak merusak otak. Penelitian jangka panjang menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam perkembangan kognitif antara anak yang pernah kejang demam dengan yang tidak. Yang berpotensi berbahaya adalah kejang yang sangat lama (lebih dari 30 menit, disebut status epilepticus) inilah mengapa langsung ke IGD jika kejang melebihi 5 menit sangat penting.
Bolehkah anak yang punya riwayat kejang demam diimunisasi?
Boleh dan sangat dianjurkan. Beberapa vaksin memang bisa menyebabkan demam sebagai efek samping, tapi ini tidak meningkatkan risiko kejang demam secara signifikan. Konsultasikan dengan dokter anak untuk protokol yang tepat, biasanya dengan pemberian antipiretik profilaksis setelah imunisasi.
Kejang demam adalah salah satu momen paling menakutkan dalam perjalanan menjadi orang tua. Tapi dengan pengetahuan yang tepat, kamu bisa menghadapinya dengan tenang, mengambil tindakan yang benar, dan melindungi anak dari risiko yang sebenarnya bisa dihindari.
Hafal tujuh langkah di atas. Simpan panduan ini. Dan kalau kamu memiliki anak dengan riwayat kejang demam bicarakan dengan dokter anak tentang protokol penanganan yang perlu disiapkan di rumah.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan panduan IDAI dan WHO tentang penanganan kejang demam anak. Untuk kondisi spesifik anak, selalu konsultasikan dengan dokter anak ya. Jangan tunda ke IGD jika ada tanda darurat di atas.
Sponsor


